BACALAH....

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ *

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ *١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ *٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ *٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ *٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ *٥ كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ *٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ *٧ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ *٨ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يَنۡهَىٰ *٩ عَبۡدًا إِذَا صَلَّىٰٓ *١٠ أَرَءَيۡتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلۡهُدَىٰٓ *١١ أَوۡ أَمَرَ بِٱلتَّقۡوَىٰٓ *١٢ أَرَءَيۡتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰٓ *١٣ أَلَمۡ يَعۡلَم بِأَنَّ ٱللَّهَ يَرَىٰ *١٤ كَلَّا لَئِن لَّمۡ يَنتَهِ لَنَسۡفَعَۢا بِٱلنَّاصِيَةِ *١٥ نَاصِيَةٖ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٖ *١٦ فَلۡيَدۡعُ نَادِيَهُۥ *١٧ سَنَدۡعُ ٱلزَّبَانِيَةَ *١٨ كَلَّا لَا تُطِعۡهُ وَٱسۡجُدۡۤ وَٱقۡتَرِب۩ *١٩


Saturday, September 14, 2019

Malaikat Maut Mengunjungi Manusia Setiap 21 Minit Sekali

BACALAH, SEBELUM TERLAMBAT

Ternyata Malaikat Maut Mengunjungi Manusia Setiap 21 Minit Sekali
Malaikat maut tidak hanya datang saat nyawa manusia akan dicabut, namun mencapai hingga 70 kali dalam sehari. Itu ertinya Izrail menziarahi manusia setiap 21 minit sekali.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu anhu, Nabi Muhammad SAW mengatakan bahawa Izrail datang dan memperhatikan wajah-wajah manusia yang sedang tertawa-tawa.

Maka berkatalah Izrail:”Alangkah hairannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah ta’ala untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih bersenang-senang bergelak ketawa”.

Malaikat Izrail diciptakan Allah SWT dengan wajah empat, satu wajah di muka, satu wajah di kepala, satu dipunggung dan satu lagi di telapak kakinya.

Malaikat Izrail diberikan kemampuan luar biasa oleh Allah SWT sehingga dari ufuk barat hingga ke ufuk timur boleh dijangkaunya dengan mudah.

Izrail memiliki 4.000 sayap dan 70.000 kaki, salah satu kakinya di langit ketujuh dan satu lagi di jambatan yang memisahkan Syurga dan Neraka.

Di dalam suatu riwayat diceritakan bagaimana cara kerja Izrail mengetahui bilakah manusia sudah tiba ajalnya:

“Allah SWT telah menciptakan sebuah pohon di bawah Arsy yakni sidratul muntaha, di mana daunnya itu sama banyaknya dengan bilangan makhluk yang Allah ciptakan. Jika seseorang itu telah diputuskan ajalnya, maka umurnya hanya tinggal 40 hari dari hari yang diputuskan.
Daun tersebut kemudian jatuh kepada Izrail, dengan begitu Malaikat Izrail mengetahui bahwa tugasnya mencabut nyawa orang yang tertulis pada daun tersebut.

Para malaikat menyebutnya sebagai mayat di langit, meskipun hidup manusia tersebut masih 40 hari lagi. Setelah itu, akan jatuh dua titisan dari bawah Arsy pada daun menuliskan mayat langit ini, satu titisan berupa warna hijau dan satu lagi berupa warna putih.

Jika titisan yang berwarna hijau, maka alamatnya celakalah dia dalam menempuh ajal, dan kalau titisan putih jatuh pada daun orang yang nama ditulis pada daun itu, maka pertanda, berbahagialah orang itu saat ajal datang menjemputnya

Untuk mengetahui tempat mati, maka Allah menjadikan malaikat Arham. Apabila Allah mencipta sesuatu kelahiran, Dia perintahkan malaikat Arham tersebut masuk ke dalam sperma yang berada dalam rahim ibu dengan debu bumi yang akan diketahui di mana ia akan mati, lalu keluarlah seorang hamba itu menuju ke mana saja di pelosok bumi ini.

Kemudian pada saat kematian tiba, iapun akan kembali pada tempat pengembalian daripada debu di mana di situlah ia akan menemui ajalnya.”

Sebagaimana firman Allah subhanallahu wa ta’ala :

Allah berfirman: “Katakanlah, sekiranya kamu berada di rumahmu, nescaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu, akan keluar juga ke tempat mereka terbunuh…” (Ali Imran : 154).

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita termasuk golongan orang yang selalu mengingat kematian dan ketika malaikat maut menjenguk kita untuk terakhir kalinya, kita berada dalam keadaan husnul khatimah.

Semoga bermanfa'at.

Friday, September 06, 2019

Sejarah Hidup Nabi Muhammad (saw)

Sebagai umat Islam, tentu saja kita wajib mengetahui tentang kisah Nabi Muhammad Saw. Kisah kehidupan beliau bukan hanya untuk dibaca atau didengarkan saja, tetapi dapat dijadikan contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kisah hidup Rasulullah Saw. memang penuh dengan hikmah. Meskipun beliau seorang nabi dan rasul pilihan Allah, hidupnya tidak lantas selalu bahagia dan mudah. Beliau juga tetap menerima cobaan dan tantangan dalam berdakwah menyebarkan agama Islam.
Kesabaran, kegigihan, dan semangat beliaulah yang harus kita jadikan inspirasi dalam menjalani kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang diridai oleh Allah Swt..
Meskipun kisah hidup beliau sudah banyak kita dengar, tetapi masih ada juga beberapa di antara kita yang belum pernah mengetahui kisah Rasulullah secara lengkap.
Oleh karena itu, marilah kita kembali membaca kisah Nabi Muhammad Saw., sang rasul penuntun umat, dari beliau dilahirkan hingga wafat.

Kisah Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad Saw. dilahirkan di Mekkah pada tahun 570 M, yaitu pada tahun yang sama ketika Raja Abrahah dari Yaman melakukan penyerbuan ke Mekkah dengan maksud untuk menghancurkan Kakbah. Tahun tersebut juga dinamakan sebagai Tahun Gajah karena pasukan penyerang Raja Abrahah menggunakan gajah sebagai tunggangannya. Para ulama menyepakati bahwa tanggal lahir Nabi Muhammad Saw. jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Enam bulan sebelum dilahirkan, ayah Nabi Muhammad Saw. yang bernama Abdullah wafat. Setelah dilahirkan, sesuai dengan tradisi bangsa Quraisy pada masa itu, Muhammad kecil kemudian diasuh dan disusui oleh Halimah binti Dzuaib As-Sa’diyah hingga beliau berumur dua tahun.
Setelah selesai masa pengasuhan Halimah, ibunda sang nabi, yaitu Aminah, kembali menjemput dan membawa beliau ke Madinnah. Pengasuh nabi yang baru bernama Ummu Aiman. Sayangnya, nabi kemudian menjadi seorang yatim piatu saat dirinya berusia 6 tahun setelah ibu Nabi Muhammad Saw. meninggal karena sakit.
Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib hingga usianya 8 tahun. Sepeninggal kakeknya, nabi dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Pada usia 9 tahun, nabi sudah diajak berdagang oleh pamannya hingga ke negeri Syam (Suriah).
Ketika sedang berada di kota Basrah, rombongan pedagang Abu Thalib berjumpa dengan pendeta Nasrani yang bernama Buhaira. Pendeta tersebut lalu memberitahukan kepada Abu Thalib bahwa keponakannya itu memiliki tanda-tanda kenabian. Buhaira berpesan kepada Abu Thalib untuk senantiasa menjaga Muhammad, karena kelak, dia akan menjadi rasul terakhir yang sudah ditakdirkan oleh Allah Swt.

Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Khadijah

Sejak usia belia, Nabi Muhammad terkenal dengan julukan Al-Amin. Al-Amin artinya adalah orang yang dapat dipercaya. Gelar ini diperoleh karena beliau selalu jujur dalam berdagang. Beliau tidak pernah menutup-nutupi dagangannya yang rusak, kondisi barang dagangannya selalu beliau tunjukkan kepada para pembelinya tanpa berbohong.
Karena gelar inilah, Khadijah binti Khuwailid yang merupakan seorang janda dan saudagar kaya raya tertarik untuk mempekerjakan beliau. Khadijah kemudian memercayakan pengaturan bisnisnya kepada Nabi Muhammad Saw.. Khadijah sangat terkesan ketika baginda nabi membawakan keuntungan berdagang yang berkali lipat jumlahnya.
Kedekatan di antara keduanya kemudian terus berlanjut. Bukan hanya terkait masalah berniaga saja, tetapi keduanya juga jatuh hati. Meskipun Khadijah merupakan seorang janda berusia 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. yang pada waktu itu berusia 25 tahun tidak keberatan untuk menikahi Khadijah.

Kerasulan dan Kisah Turunnya Wahyu Pertama

Menginjak usia 40 tahun, Muhammad ditetapkan oleh Allah Swt. sebagai seorang nabi dan rasul. Hal ini ditandai dengan diturunkannya wahyu pertama oleh Allah Swt. lewat perantara Malaikat Jibril ketika sang nabi sedang berada di Gua Hira.
Wahyu pertama yang turun kepada nabi adalah surah Al-Alaq ayat 1-4 yang berbunyi:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dengan turunya wahyu tersebut, Muhammad telah resmi menjadi seorang nabi dan rasul. Maka dari itu, beliau juga berkewajiban untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran dari Allah Swt kepada seluruh umatnya.
Beliau kemudian melakukan dakwah pertamanya secara sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang yang pertama kali menjadi pengikut baginda Rasullah dalam dakwah secara sembunyi-sembunyi ini adalah istri beliau, Khadijah, sahabat beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah, pengasuh beliau, Ummu Aiman, sepupu beliau, Ali bin Abu Thalib, dan seorang budak, Bilal bin Rabah. Orang-orang yang pertama kali memeluk Islam ini juga sering disebut sebagai As-Sabiqun al-Awwalun.
Setelah tiga tahun menjalankan dakwah secara diam-diam, turun perintah dari Allah SWT lewat surah Al-Hijr ayat 94 yang memerintahkan nabi untuk berdakwah secara terang-terangan. Ayat tersebut berbunyi:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Kisah Nabi Muhammad Saw. Melakukan Isra Mi’raj dan Mendapat Perintah Salat

Peristiwa luar biasa ini terjadi di tahun kesebelas kenabian Muhammad Saw.. Tahun ini juga biasa disebut sebagai tahun kesedihan, karena pada tahun ini, Abu Thalib dan Khadijah wafat.
Untuk menghibur nabi Muhammad Saw. yang sedang bersedih, Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk mendampingi nabi melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqsa naik ke langit ketujuh.
Di langit ketujuh inilah, Rasulullah mendapatkan perintah salat 5 waktu yang wajib dikerjakan oleh seluruh umat Islam.

Kisah Nabi Muhammad Saw. Hijrah ke Madinnah

Akibat perlakuan para penduduk Mekkah yang kasar terhadap para pemeluk Islam, timbullah gagasan untuk hijrah. Hijrah ini juga sebagai langkah awal Rasulullah dalam menyebarluaskan agama Islam ke seluruh jazirah Arab.
Umat Islam dari kota Mekkah, termasuk Nabi Muhammad Saw. kemudian hijrah ke kota Yastrib pada tahun 622 M. Kota tersebut kemudian dikenal sebagai Madinnah atau Madinatun Nabi yang berarti Kota Nabi. Di Madinnah pula, Rasulullah mewujudkan sistem pemerintahan Islam atau kekhalifahan.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Baginda Nabi Muhammad Saw. wafat pada bulan Juni 632 M atau pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah dalam usia 63 tahun karena sakit demam yang dideritanya. Makam Nabi Muhammad Saw. saat ini dapat ditemukan di kompleks Masjid Nabawi, Arab Saudi. Nabi Muhammad Saw. menjalankan masa dakwahnya selama kurang lebih 23 tahun.

Keturunan Nabi Muhammad SAW

Anak Nabi Muhammad Saw. berjumlah 7 orang, 3 di antaranya laki-laki dan 4 merupakan perempuan. Mereka adalah Al Qasim, Zainab, Ruqaiyah, Fatimah Az Zahra, Ummu Kultsum, Abdullah dan Ibrahim.

Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad Saw. adalah Al Quran. Mukjizat lainnya yang terdapat pada Nabi Muhammad adalah perjalanan Isra Mi’raj dan dapat membuat bulan terbelah hanya dengan menggunakan jari tangannya saja. Mukjizat-mukjizat ini tentu saja wajib kita percayai sebagai umat Islam.
Itulah ringkasan kisah Nabi Muhammad Saw. yang sudah sepatutnya kita ketahui dan selalu kita ingat. Semoga, dengan mengetahui sejarah Rasulullah, kita dapat lebih banyak belajar lagi untuk dapat menjadikan beliau sebagai pedoman dalam hidup.
Mengapa kita wajib menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai pedoman? Karena kelak, ketika di padang Mahsyar, beliau hanya akan menolong umat-umatnya yang taat kepada ajarannya.

Friday, August 02, 2019

Pendidikan Hebat Membentuk Negara Berkat

Khutbah Jumaat : Pendidikan Hebat Membentuk Negara Berkat
Posted on Ogos 2, 2019 by ekhutbah

الحَمْدُ للهِ !! الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ  أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  …أَمَّا بَعْدُ ….فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاتمَوُْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Wahai hamba-hamba Allah ! Bertaqwalah sekalian kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

Saya  menyeru diri saya sendiri dan juga sidang Jumaat sekalian  agar kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada  Allah dengan melakukan segala suruhanNya dan menjauhi segala  yang ditegahNya.

Sidang Jumaat yang dihormati sekalian,

Firman Allah dalam ayat 1-3 surah al-Fajr :

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Maksudnya : Demi waktu fajar; Dan malam yang sepuluh (yang mempunyai kelebihan di sisi Allah); Dan bilangan yang genap serta yang ganjil;

Hari kita mula memasuki 10 hari terawal daripada bulan Zulhijjah yang dijanjikan dengan kelebihan yang begitu besar oleh Allah sebagaimana yang disebut dalam al-Quran pada awal surah al-Fajr di mana Ibnu Abbas dan Mujahid menyatakan bahawa malam sepuluh yang dimaksudkan ialah 1 hingga 10 Zulhijjah di mana pendapat ini dikuatkan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ” – رواه البخاري

Maksudnya : Tiada hari-hari yang amalan soleh dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (iaitu 10 hari pertama Zulhijjah). Mereka (para sahabat) bertanya: “Ya Rasulullah, termasuk jihad di jalan Allah?” Baginda menjawab: “Ya, tidak juga jihad di jalan Allah kecuali orang yang mengorbankan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali setelah itu (mati syahid).”

Jelas menerusi hadis ini amalan pada 10 hari pertama Zulhijjah begitu besar. Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqolani: “Jika seseorang melakukan hal seperti itu iaitu berjihad sehingga mengorbankan diri dan harta, maka dia lebih baik atau sedarjat dengan mereka yang melakukan ibadat pada 10 hari pertama pada Zulhijjah.”

Selanjutnya al-Hafiz Ibn Hajar memperjelaskan sebab keutamaan 10 hari pertama Zulhijjah ialah kerana pada hari-hari tersebut terkumpul ibadat-ibadat yang induk seperti solat, puasa, sedekah dan haji yang mana hal-hal itu kesemuanya tidak terdapat (secara serentak) pada bulan-bulan lain.

Kita juga jangan lepaskan peluang untuk merebut kelebihan puasa pada hari Arafah iaitu hari ke-9 daripada bulan Zulhijjah yang bakal tiba seminggu lagi

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : …. صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ ………  – رواه مسلم

Maksudnya : …… puasa hari Arafah pahalanya di sisi Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya…..

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Firman Allah dalam ayat 100-101 surah as-Soffaat :

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾

Maksudnya : ” Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang terhitung dari orang-orang yang soleh!”  Lalu Kami berikan kepadanya berita yang mengembirakan, bahawa ia akan beroleh seorang anak yang penyabar.

Keberadaan kita pada bulan Zulhijjah mengingatkan lagi tentang kehebatan pengorbanan yang pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim a.s sekeluarga dalam membentuk keluarga yang patuh taat kepada perintah Allah. Antara pengajaran yang boleh diambil daripada pendidikan dalam membentuk anak soleh di mana Allah menggambarkan ciri yang ada pada nabi Ismail a.s ialah sifat Halim iaitu dapat mengawal dirinya ketika marah, mempunyai kematangan dalam berpendapat, memiliki akhlak mulia dan bersikap rahmat dengan makhluk. Allah menggunakan perkataan ghulam iaitu peringkat umur sekitar sebelum mencapai had umur baligh, belum mencapai umur belia lagi ketika menggambarkan tentang ciri halim yang ada pada nabi Ismail a.s. Tidaklah mudah bagi seorang anak sebelum mencapai umur balighnya untuk memiliki sikap sedemikian. Cubalah kita lihat sendiri kebanyakan sikap anak-anak berumur antara 7-15 misalnya, berapa ramaikah yang dapat membuat keputusan dengan baik dan matang, berfikir dengan tenang, dan dapat bersabar serta mampu mengawal dari dikawal oleh sikap marah? Kebanyakannya kalau berlaku sesuatu yang tidak menyenangkan antara dia dengan kawannya, maka mulalah marah, bergaduh dan boleh sampai ke tahap bertumbuk.

Tetapi tidak bagi nabi Ismail a.s. Sewaktu umur itu, baginda sudah pun mencapai kematangan berfikir dan pengawalan diri yang tinggi. Ia adalah hasil didikan ibunya juga. Lihatlah dalam peristiwa Ibrahim a.s. menerima wahyu untuk menyembelihnya maka nabi Ismail a.s patuh taat dengan jawapan yang matang

Firman Allah dalam ayat 102 surah as-Soffaat :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾

Maksudnya : Maka ketika anaknya itu sampai (ke peringkat umur yang membolehkan baginda) berusaha bersama-sama dengannya, Nabi Ibrahim a.s berkata: “Wahai anak kesayanganku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu?”. Anaknya menjawab: “Wahai ayah, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu; In sya Allah, ayah akan mendapati daku dari orang-orang yang sabar”

Sidang Jumaat yang dikasihi,

Firman Allah dalam ayat 40-41 surah Ibrahim :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ ﴿٤٠﴾ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾

Maksudnya : Wahai Tuhanku! Jadikanlah daku orang yang mendirikan sembahyang dan demikianlah juga zuriat keturunanku. Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doa permohonanku.  “Wahai Tuhan kami! Berilah ampun bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan”

Pembangunan perindustrian pesat dalam era globalisasi yang berlaku dalam dunia hari ini telah meningkatkan cabaran membentuk generasi akan datang khasnya bagi ibubapa dan pendidik Muslim. Dalam menempuh alam cyber dan teknologi maklumat tidak dapat dinafikan pembangunan insan dan pembinaan generasi perlu dititikberatkan selari dengan keprihatinan terhadap kepesatan kemajuan negara. Ini kerana kanak-kanak merupakan aset penting bagi pembinaan sesuatu bangsa dan ketinggian maruah agama. Mereka adalah generasi pewaris yang bakal menjana wawasan dan mencorak masa depan sesebuah negara pada alaf yang akan datang. Mereka bakal menjadi pemimpin ummah dan mencorak keunggulan Islam sebagai agama sejagat.

Pernyata dari hasil-hasil kajian ilmiah samada di timur, di barat malah seluruh dunia , dapatan kajian membuktikan bahawa pendidikan awal kanak-kanak adalah asas kepada pembinaan kekukuhan sesuatu bangsa dan pemangkin kepada visi wawasan halatuju negara. Kajian  yang dilakukan di Amerika Syarikat misalnya menunjukkan bahawa setiap nilaian dolar yang dilaburkan untuk pendidikan awal yang berkualiti tinggi dapat memberikan pulangan yang tinggi samada dari segi perkembangan ekonomi mahupun perkembangan sosial kehidupan masyarakat di negara tersebut.

Manakala Jepun, negara yang suatu ketika dahulu pernah lumpuh akibat ledakan bom atom,  dalam jangkamasa yang tak sampai setengah abad Jepun mampu bangun menjadi tunggak ekonomi dunia. Suatu kajian yang dilakukan oleh seorang penyelidik Barat   mendapati bahawa pembinaan pemikiran masyarakat Jepun bukanlah disebabkan oleh laungan suara kebangkitan atau paluan gendang lagu membakar semangat, tidak juga tumpuan kepada pencapaian akademik mengorientasi pemikiran rakyat. Akan tetapi ianya berpunca dari keprihatinan dan kepekaan pemimpin dan rakyat negara itu terhadap pembentukan generasi awal. Masyarakat Jepun telah menyediakan generasi mereka dengan daya ketahanan menghadapi cabaran dari aspek fizikal dan mental, dan mereka juga bertungkus lumus menumpukan perhatian membina daya keintelektualan dan menggarap potensi semulajadi setiap individu kanak-kanak sejak dari peringkat awal perkembangan.

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ –  رواه أبو دأود

Maksudnya : Perintahkanlah kepada anak-anak kamu untuk mengerjakan solat semasa mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka untuk sekiranya mereka solat ketika mereka berumur sepuluh tahun dan asingkanlah mereka daripada tempat tidur kamu.”

Imam Al-Ghazali pernah menyebut, “sesungguhnya anak-anak kita adalah permata”. Dalam membicarakan soal pendidikan anak-anak ini suatu perkara yang perlu kita fahami bahawa mendidik adalah suatu kesenian yang datangnya dari jiwa yang halus dan pemikiran yang kreatif. Suatu yang kreatif dan seni tidak akan lahir dari jiwa yang keras dan peribadi yang kasar. Kasih sayang adalah elemen paling utama dalam proses mendidik. Teguran dan nasihat yang lahir dari cetusan kasih sayang akan mencairkan hati yang keras sebaliknya  kekasaran dan penonjolan ammarah akan membekukan jiwa yang lembut. Apatah lagi bila yang dihadapan kita itu adalah kanak-kanak yang putih bersih, yang akan belajar apa sahaja yang ada di persekitarannya melalui pemerhatian, yang akan meniru dari qudwah yang ditonjolkan seterusnya mengaplikasikan hasil pembelajaran melalui kebiasaan.

Ibnu Khaldun mengingatkan para pendidik melalui seruannya: “…Sesungguhnya kekerasan dalam mendidik memberikan kesan yang buruk kepada orang yang dididik lebih-lebih lagi bagi kanak-kanak.Barangsiapa yang ditarbiah dengan cara kekerasan dan paksaan, maka akan sempitlah pemikiran dan jiwanya lalu jadilah anak itu hilang kecerdasannya, malas, terbawa-bawa kepada berbohong dan berkelakuan jahat…”

Malah ketika membicarakan hukum merotan anak atau pelajar maka di sana ada garis panduannya Antaranya ialah:

  Niat sebelum merotan itu, untuk mendidik jiwa anak/pelajar tersebut dan bukannya untuk menghukum fizikal yang melakukan kesalahan.
  Hukuman rotan merupakan tindakan terakhir, setelah cara lain digunakan.
Elakkan merotan ketika sedang marah.
  Dilarang merotan di bahagian muka dan bahagian-bahagian yang merbahaya seperti dekat dengan kepala, perut, dada dan kemaluan.
  Memukul juga tidak boleh menyebabkan kerosakan dan kemudaratan pada tubuh badan anak atau pelajar seperti luka atau patah tulang. Tujuan rotan adalah bersifat ‘ta’dibi’ iaitu memberi pendidikan dan bukannya menyeksa
  Dalam merotan anak-anak, sebatan tidak boleh dilakukan dengan melebihi 10 kali. Ini adalah berdasarkan kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abi Burdah al-Ansari R.anh bahawa Nabi S.A.W bersabda:
لَا يُجْلَدُ فَوْقَ عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ إِلَّا فِي حَدِّ مِنْ حُدُودِ اَللَّهِ  – رواه البخاري

Maksudnya : “Tidak disebat seseorang itu melebihi 10 kali sebatan kecuali pada (hukuman) had daripada hudud-hudud Allah S.W.T.”

  Hendaklah ibu-bapa atau guru itu sendiri yang merotan dan tidak mewakilkan hukuman tersebut kepada anak atau murid yang lain.
Bersama kita menjaga adab Islam dalam membina generasi hebat yang bakal memimpin negara yang berkat. Islamlah nescaya kita selamat dunia akhirat

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ